Harmoninews.com, Jakarta – Banjir kembali merendam sejumlah wilayah Jakarta usai hujan deras mengguyur ibu kota. Kondisi ini kembali mengganggu aktivitas warga dan memperpanjang daftar persoalan klasik Jakarta yang tak kunjung terselesaikan.
Ketua DPD BMI DKI Jakarta, Ghiffari Adha, menilai banjir yang terus berulang bukan sekadar persoalan cuaca, melainkan cerminan kegagalan pemerintah daerah dalam menghadirkan solusi pencegahan yang serius dan berkelanjutan.
Ghiffari secara khusus menyoroti pernyataan pejabat publik yang menyebut banjir Jakarta cukup “disurutin”. Menurutnya, pernyataan tersebut menunjukkan rendahnya kualitas respons pemerintah dalam menjawab keresahan masyarakat.
“Pernyataan ‘disurutin’ itu bukan solusi. Banjir memang bisa disurutin, tapi itu pasti terjadi dengan sendirinya. Pertanyaannya sederhana: apa yang dilakukan pemerintah supaya Jakarta tidak banjir lagi? Itu yang sampai hari ini tidak dijawab,” tegas Ghiffari.
Ia menyebut jawaban semacam itu hanya memperlihatkan pendekatan instan dan tidak menyentuh akar persoalan banjir Jakarta yang sudah terjadi puluhan tahun.
“Warga tidak butuh narasi reaktif. Setiap banjir datang, jawabannya selalu sama. Kalau pola pikirnya masih sebatas menyurutkan air, maka jangan heran kalau banjir akan terus jadi rutinitas tahunan,” lanjutnya.
Ghiffari menilai pemerintah seharusnya lebih fokus pada kebijakan pencegahan jangka panjang, seperti pembenahan drainase, pengelolaan aliran sungai, serta penataan kota yang berpihak pada keselamatan warga.
Ia menegaskan bahwa banjir Jakarta adalah ujian kepemimpinan, bukan sekadar persoalan teknis.
“Kalau banjir terus berulang dan jawabannya tidak pernah berubah, maka publik wajar menilai ada masalah serius dalam kepemimpinan dan arah kebijakan,” pungkasnya.








Komentar